Rabu, 25 November 2009

Know your Self Guys…

Usia Remaja adalah masa peralihan, dari masa anak-anak menuju Dewasa. Masa dimana individu mencari identitas dirinya yang sebenarnya. Masa yang penting dan cukup menantang tentunya. Belum lagi beres dengan masalah penerimaan akan perubahan fisiknya, tak jarang seorang remaja harus menghadapi lingkungan yang membuat mereka tertekan. Banyak hal baru yang mereka temukan, dan beban tanggung jawab pun jelas bertambah.

Pada usia pubertas ini, pemikiran mereka juga berubah. Seiring berkembangnya logika dan pemikiran kritisnya ini, para remaja akan dihadapkan pada banyak pilihan dalam hidupnya. ’Menentukan pilihan’; tak jarang ini bisa menjadi dilemma tersendiri bagi para remaja. Memilih teman bergaul, memilih kebiasaan yang baik atau buruk, termasuk juga memilih dan menentukan jenjang pendidikan apa yang akan ditempuh olehnya. “Masuk ke SMA mana? Setelah lulus, Saya pilih Kerja atau kuliah? Kalau Kuliah Jurusan apa?” itulah pertanyaan yang sering terlontar dari para remaja. Dan itu harus mereka jawab dan tentukan pilihan sesuai dengan cita-cita dan tujuan hidup masing-masing. Ingin menjadi apa mereka esok, harus dipersiapkan sejak sekarang.

Ironisnya banyak remaja yang masih belum bisa menentukan “Mau jadi apa saya?!”. Jika ditanya cita-cita mereka, anak-anak usia SMA terkadang masih menjawab seperti anak balita. Seorang remaja kelas 1 SMA (16 tahun) menjawab ringan dengan aksen anak muda; “Mau jadi dokter dong!”. Remaja seumuran yang lain menjawab; “Jadi pelaut aja deh, gajinya gede”. Seorang remaja pria lain yang sedang bermain basket menjawab, “nanti saya pengen jadi pemain NBA”. Ada lagi yang lebih unik; “saya ambil kuliah jurusan psikologi aja, gak ada pelajaran matematikanya”. Dari pernyataan-pernyataan tersebut dapat disimpulkan: ternyata wawasan dan orientasi mereka masih sempit mengenai profesi-profesi, dan yang terpenting ternyata remaja-remaja ini belum ‘menemukan dirinya’ yang sebenarnya.

Berkaca dari pengalaman pribadi saya. Saat kelas 3 SMA saya masih bingung “Mau kemana…dan jadi apa saya”. Saat itu usia saya menginjak 17 tahun, dan masih minim wawasan dan belum tahu “pribadi saya ini seperti apa”. Acap kali saya ‘latah’ atau ikut-ikutan. Ketika Banyak teman-teman mendaftar di STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara), saya ikut. Teman yang lain berbondong-bondong tes masuk UI (Univeristas Indonesia), saya pun tak mau ketinggalan. Toh akhirnya saya hanya menjadi ‘penggembira’ saja. Setelah lulus, Saya dianjurkan orang tua untuk masuk STIP(Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran) untuk menjadi pelaut. Lalu mencoba juga menjadi Polisi. Dan alhasil keduanya gagal.

Saya percaya ‘kebingungan’ yang saya alami ini terjadi juga pada remaja-remaja lain. Para remaja kadang memilih profesi atau jurusan karena motivasi yang kurang bisa dipertanggung jawabkan. Memilih jurusan atau profesi demi mendapat gajih besar nantinya, mungkin karena profesi atau jurusan tersebut sesuai hobi yang sesaat saja, atau karena ikut-ikutan teman, atau karena mereka menghindari pelajaran tertentu. Tidak ada yang salah dengan motivasi-motivasi seperti itu. Sebenarnya dalam tiap individu ada suatu ‘panggilan’ profesi, suatu passion atau hasrat berkarya dalam bidang tertentu. Dan tiap individu tinggal menemukan dan mengembangkannya. Maka ketika kita akan menentukan suatu karier atau cita-cita atau jurusan, kita hendaknya menyadari 2 hal:

1. Memahami tentang diri sendiri

2. Hendaknya kita mengetahui apa yang ditawarkan dan dibutuhkan oleh lingkungan.

Pada poin pertama; memahami tentang diri sendiri. Itulah yang menjadi persoalan para remaja, yang notabene memang sedang dalam proses mencari identitas diri mereka.

Tiap-tiap pribadi adalah unik; berbeda satu dengan yang lain, sesuai dengan prinsip ‘individual differences’. Untuk memahami diri, dapat ditinjau dari 2 aspek:

Ø Fisik

Ciri-ciri fisik sangat mudah untuk dilihat dan dikenali. Ciri fisik antara lain: bentuk badan, tinggi badan, berat badan, warna kulit, warna rambut, bentuk wajah dan lain-lain. Keadaan fisik sangat menentukan tingkat kemampuan fisik seseorang. Kemampuan fisik antara lain:

· Kemampuan sensorik atau ketajaman pengindraan

· Kemampuan olah vocal

· Kemampuan motorik/kontrol gerak tubuh (olah raga)

Penting sekali untuk mengenali ciri-ciri fisik serta kemampuan fisik yang dimiliki. Karena beberapa bidang karier menuntut perdyaratan fisik secara khusus, seperti dalam hal tinggi badan, berat badan, kesehatan mata, keekaan pendengaran dan lain-lain. Misalnya untuk menjadi TNI atau pilot dituntut memiliki kesehatan fisik prima, kepekaan pendengaran, ketajaman penglihatan serta bebas buta warna.

Memelihara dan memperhatikan kondisi fisik sangat penting. Disamping untuk persiapan karir pada masa yang akan datang, hal ini juga diperlukan dalam pergaulan sehari-hari. Tidak dapat dipungkiri, kesan pertama setiap orang dilihat dari penampilannya. Lebih jah lagi memelihara kesehatan fisik merupakan manifestasi dari rasa syukur terhadap anugrah Sang Pencipta yang tak ternilai harganya.

Ø Non Fisik

Disamping kemampuan fisik, hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam memilih jurusan studi atau cita-cita atau karier adalah kemampuan non fisik, yang meliputi:

· Faktor Keturunan

‘Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya’, pepatah itu nampaknya sangat sesuai dengan teori Nativisme (Schopenhouer). Teori ini berpendapat bahwa individu membawa faktor-faktor keturunan dari orang tua. Tak jarang hal ini terbukti; ayah yang seorang musisi, anaknya biasanya tak jauh-jauh bergelut juga dalam dunia seni.

Analisis menggunakan genogram (grafik generasi yang menggambarkan sislsilah) dianggap sebagai suatu metode yang baik untuk menganalisa pengaruh orang tua dan anggota keluarga dalam pengembangan karier individu.

· Analisis Psikis

Secara garis besar kemampuan psikis meliputi:

a. Kemampuan akademik

Kemampuan akademik merupakan sebagian dari kemampuan intelektual. Kemampuan ini tercermin dalam nilai-nilai hasil belajar selama ini, dari SD sampai saat ini. Kita bisa mencermati nilai-nilai di Lembar Evaluasi Hasil Belajar masing-masing. Di bidang studi mana kita dinilai unggul.

b. Kemampuan Umum (IQ)

Kemampuan umum diartikan sebagai kemampuan dasar yang dibutuhkan oleh individu dalam beradaptasi, mengubah dan memilih lingkungan. Kecerdasan ini dapat diukur melalui tes psikologi. Hasil tes kecerdasan biasa dinyatakan dalam koefisien kecerdasan Intelligence Quotient. Kemampuan dasar ini akan digunakan dalam pemecahan masalah dan kemampuan merencakan masa depan dengan menggunakan logikanya.

Definisi IQ menyangkut 2 hal:

- Kemampuan tingkat tinggi: penalaran abstrak, representative mental, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.

- Kemampuan belajar untuk memenuhi tuntutan lingkungan.

c. Kemampuan Khusus (Bakat)

Bakat adalah suatu kemampuan khusus yang dimiliki oleh individu. Bakat dapat berkembang dan menonjol bila dilatih terus menerus. Bakat yang berkembang bisa menjadikan profesi bagi pemiliknya.

Different Aptitude Test (DAT) merupakan tes bakat yang dirancang dan dipergunakan konseling bagi siswa usia SMP dan SMA. Tes tersebut membagi bakat dalam 9 bidang:

-

- Mekanik

- Kecepatan dan Ketelitian Klerikal

- Kemampuan Bahasa Indonesia

- Kemampuan Bahasa Asing

Verbal

- Numerik

- Skolastik

- Abstrak

- Relasi Ruang

d. Kepribadian

Kepribadian yaitu organisasi yang dinamis dalam individu, terdiri dari sistem-sistem psiko-fisis yang menentukan cara penyesuaian diri yang unik dari individu tersebut terhadap lingkungannya. Setiap orang mempunyai kepribadian yang berbeda, dipengaruhi faktor genetis dan faktor pengalaman. Faktor kepribadian ini memiliki peranan yang berpengaruh bagi seseorang, antara lain menentukan arah pilihan jurusan studi atau karir.

e. Minat

Minat sangat erat sekali hubungannya dengan perasaan suka atau tidak suka, tertarik atau tidak, senang atau tidak senang. Minat dapat merupakan dorongan yang kuat dalam belajar, mengerjakan sesuatu pekerjaan atau melaksanakan tugas yang dibebankan kepada seseorang. Minat dapat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan seseorang dalam merencanakan masa depan. Minat dapat diukur menggunakan tes atau non tes.

f. Kecerdasan

Di dunia ini tidak ada orang yang bodoh. Seperti Teori Multiple Intelligence dari Howard Gardner. Howard menemukan 7 kecerdasan, tetapi dapa perkembangannya berhasil ditemukan 1 kecerdasan lagi (7+1 kecerdasan manusia). Setiap manusia memiliki semua kecerdasan itu, tetapi hanya ada beberapa yang dominan dan menonjol dalam diri seseorang.

“Kenali dirimu sendiri!”

(Socrates)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar